Arsip
All posts by alenmarlis
EKSPLORASI , ELABORASI , DAN KONFORMASI DALAM RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) ,
DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
EKSPLORASI, ELABORASI, DAN KONFIRMASI merupakan 3 istilah yang saat ini sedang
“ngetrend” dikalangan para guru. Kala dihadapkan pada pertanyaan ; “Apa sih pengertian dari
ketiga istilah tersebut dan bagaimana penerapannya dalam kegiatan pembelajaran ?”, ternyata
banyak para guru yang belum memahaminya.
Nah … , Saya memberi solusinya ketiga istilah tersebut,
Berikut adalah hasil ;
A. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketiga istilah tersebut bermakna sebagai berikut:
1. Eksplorasi adalah kegiatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru dari situasi
yang baru.
2. Elaborasi adalah penggarapan secara tekun dan cermat.
3. Konfrimasi adalah pembenaran, penegasan, dan pengesahan
B. Aplikasi ketiga istilah tersebut dalam rancangan dan proses pembelajaran
Pengaplikasian ketiga istilah tersebut dalam rancangan dan proses pembelajaran adalah
sebagai berikut ;
1. Eksplorasi :
Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan peserta didik dalam mencari dan menghimpun
informasi, menggunakan media untuk memperkaya pengalaman mengelola informasi,
memfasilitasi peserta didik berinteraksi sehingga peserta didik aktif, medorong peserta didik
mengamati berbagai gejala, menangkap tanda-tanda yang membedakan dengan gejala pada
peristiwa lain, mengamati objek di lapangan dan labolatorium.
Kegiatan guru dan peserta didik dalam siklus ekplorasi adalah
Peserta didik :
- menggali informasi dengan membaca, berdikusi, atau percobaan
- mengumpulkan dan mengolah data
Guru :
- menggunakan berbagai pendekatan dan media
- memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, dan peserta
didik dengan sumber belajar
- melibatkan peserta didik secara aktif
2. Elaborasi
Dalarn kegiatan elaborasi, guru mendorong peserta didik membaca dan menuliskan hasil
eksplorasi, mendiskusikan, mendengar pendapat, untuk lebih mendalami sesuatu,
menganalisis kekuatan atau kelemahan argumen, mendalami pengetahuan tentang sesuatu,
membangun kesepakatan melalui kegiatan kooperatif dan kolaborasi, membiasakan peserta
didik membaca dan menulis, menguji prediksi atau hipotesis, menyimpulkan bersama, dan
menyusun laporan atau tulisan, menyajikan hasil belajar.
Kegiatan guru dan peserta didik dalam siklus elaborasi adalah
Peserta didik :
- melaporkan hasil eksplorasi secara lisan atau tertulis, baik secara individu maupun kelompok
- menanggapi laporan atau pendapat teman
- mengajukan argumentasi dengan santun
Guru :
- memfasilitasi peserta didik untuk berpikir kritis, menganalisis, meemcahkan masalah,
bertindak tanpa rasa takut
- memfasilitasi peserta didik untuk berkompetisi
3. Konfirmasi :
Dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik terhadap apa yang dihasilkan
peserta didik melalui pengalaman belajar, memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan
kelemahan hasil belajar dengan menggunakan teori yang dikuasi guru , menambah informasi
yang seharusnya dikuasai peserta didik, mendorong peserta didik untuk menggunakan
pengetahuan lebih lanjut dari sumber yang terpecaya untuk lebih menguatkan penguasaan
kompetensi belajar agar lebih bermakna. Setelah memeperoleh keyakinan, maka peserta didik
mengerjakan tugas-tugas untuk mengasilkan produk belajar yang kongkrit dan
kontekstual.Guru membantu peserta didik menyelesikan masalah dan menerapkan ilmu dalam
aktivitas yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan guru dan peserta didik dalam siklus konfirmasi
Peserta didik :
- melakukan refleksi terhadap pengalaman belajarnya
Guru :
- memberi umpan balik positif kepada peserta didik
- memberi konfirmasi melalui berbagai sumber terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi
- berperan sebagai narasumber dan fasilitator
- memberi acuan agar peserta didik melakukan pengecekan hasil ekplorasi
- memberi motivasi kepada peserta didik
Selamat mencoba dan gunakan
aspirasi anda seluas mungkin
——————————————————————————————————————————————-

Sahabat saya yang baik hatinya,
jika Anda berharap dalam tidur Anda malam ini,
… Tuhan membebaskan hati Anda dari kegalauannya,
dan membersihkan pikiran Anda dari kekhawatiran
yang memburamkan kejelasan tujuan Anda,
dan jika Anda berharap,
esok pagi Tuhan memudahkan penerimaan yang baik
di hati sesama terhadap niat dan upaya baik Anda,
dan membuka keran-keran rezeki
yang menjadi kerinduan hati Anda
dan keluarga terkasih.
Semoga Tuhan mendahulukan jawaban bagi doa-doa Anda.
Aamiin
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Seperti sebuah kamar, hati yang tertutup akan menjadi pengap dan suram.
Hati yang terbuka bagi kasih sayang, rasa syukur, persaudaraan dan persahabatan, yang mendoakan bagi kebaikan hidup sesama, dan yang tulus merayakan keberhasilan orang lain, menjadi gerbang masuknya kebaikan, kesejahteraan, dan penghormatan.
Marilah kita mengindahkan ruang tamu di hati kita, agar keluarga dan sahabat menemuk…an keindahan sebagai tamu terkasih di dalamnya.
Orang yang penyayang, disayangi oleh Tuhan, yang dipenuhi permintaannya bahkan sebelum meminta.
Mario Teguh – Loving you all as always
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Tuhan kami Yang Maha Pemurah,
Kami mohon Engkau mendampingi upaya kami untuk membangun kehidupan yang besar dari tempat-tempat yang kacil.
Jadikanlah kami merasa nyaman di tempat kami yang kecil ini, menikmati sekali proses berpikir yang kreatif, asyik bekerja sesuai rencana kami, tersenyum penuh harap membayangkan keberhasilan kami, berdebar-debar dengan keyakinan yang hampir menjadi kenyataan …tentang merekahnya sambutan sesama kepada usaha kami.
Tuhan kami Yang Maha Penyayang,
Jadikanlah tempat kecil ini sebagai tempat kumulai perjalanan naikku, dan tempat kecil yang akan kuingat dengan penuh syukur saat aku menceritakannya dengan penuh kasih kepada anak-anak dan cucu-cucuku.
Aamiin
———————-
Jika karena kesibukan, Anda tidak sempat menuliskan ‘Aamiin’, Anda dapat me-‘Like’ status ini sebagai tanda kesertaan Anda dalam doa dan harapan kita bersama.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh – Loving you all as always
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Hari ini seharusnya adalah hari yang penuh kedamaian dan kegembiraan bersama keluarga, tapi ada orang yang justru menjadikan kehadirannya sebagai pemedih hati jiwa-jiwa baik yang seharusnya dibahagiakannya.
Masalah adalah rahmat yang tidak kita sukai rasanya.
Karena, sesungguhnya bersama masalah, datang kemudahan. Tapi, kita lebih cepat melihat masalah, dan tidak melihat kemudahan yang datang be…rsamanya.
Kita justru sering menjadi tidak damai oleh masalah yang sebetulnya adalah jalan menuju kekuatan diri, yang akan mendamaikan kita.
Maka janganlah keinginan Anda untuk menjadi pribadi yang damai, justru menjadikan Anda gelisah dan pemarah.
Cobalah untuk berlaku ramah terhadap masalah Anda, tetaplah ikhlas melakukan yang baik untuk keluar dari kesulitan itu, dan syukurilah keberadaan keluarga yang menjadi kekuatan dan alasan bagi kebaikan hidup Anda.
Jadilah jiwa yang ikhlas dan penuh syukur.
Hiduplah dalam perasaan baik.
Mario Teguh – Loving you all as always
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Proyek Pribadi Hari Ini:
MENJADI PRIBADI YANG TEGAS MENCINTAI DENGAN SEUTUHNYA
Sahabatku yang baik hatinya, di pagi yang indah ini, sampaikanlah …
… Tuhanku Yang Maha Penyayang,
Aku tak ingin lagi bermain-main atau tertipu dengan cinta yang setengah-setengah.
Aku letih mengharapkan kebahagiaan dari yang katanya cinta tapi tak menghormatiku, dari yang katanya kesetiaan tapi mengkhianatiku, dan dari yang katanya perhatian tapi menelantarkanku.
Kuatkanlah aku untuk menegaskan diri terhadap orang-orang yang palsu, untuk menjauhi mereka bagi kedamaianku, dan membebaskan diriku bagi jiwa yang mampu untuk mencintaiku dengan seutuhnya.
Wahai Yang Maha Cinta,
Jadikanlah aku pribadi yang tegas mencintai dengan seutuhnya, agar Kau hadiahkan kepadaku belahan jiwa yang mencintaiku dengan seutuhnya.
Aamiin
————————–
Jika karena kesibukan, Anda tidak sempat menuliskan ‘Aamiin’, Anda dapat me-‘Like’ status ini sebagai tanda kesertaan Anda dalam doa dan harapan kita bersama.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh – Loving you all as always
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Sahabat saya yang baik hatinya,
yang merindukan kehadiran belahan jiwanya,
Marilah kita memohon kepada Tuhan,
agar saat Anda tidur malam ini,
…
Tuhan mewaspadakan hati Anda
dari kepalsuan orang yang berusaha
mengambil keuntungan dari kesendirian Anda,
agar Tuhan mendampingi upaya Anda
untuk mengindahkan hati dan pekerti Anda,
dan menjaga Anda dalam jalan hidup yang baik
yang akan mempertemukan Anda
dengan belahan jiwa yang sesuai
dengan keindahan pekerti Anda.
Tuhan, akhirilah masa sendiri kami
dengan pernikahan yang mesra, penuh kasih,
saling gemes, mengutamakan yang membahagiakan,
dan setia dalam kemudahan dan dalam kesulitan.
Aamiin

Setiap tahun, majalah Forbes selalu mengeluarkan daftar orang-orang terkaya dunia. Tahun ini, mereka mencatat ada 1226 miliuner di seluruh dunia yang memiliki harta total $4,6 triliun atau Rp41.856 triliun. Siapa saja 10 orang terkaya dunia itu?
1. Nama: Carlos Slim Helú dan keluarga
Harta kekayaan: $69 miliar/ Rp627,84 triliun (turun)
Sumber: Telecom
Kewarganegaraan: Meksiko
Carlos Slim Helú berhasil mempertahankan gelar sebagai orang terkaya dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut, meski hartanya berkurang $5 miliar daripada tahun lalu karena turunnya harga saham raksasa telekomunikasi America Movil, lebih dari setengah sumber kekayannya. Slim kini menghabiskan hari-harinya bekerja di Yayasan Carlos Slim dan Yayasan Telmex. Tujuannya: kerja-kerja filantropis yang akan mengembangkan kemampuan manusia.
2. Nama: Bill Gates
Harta kekayaan: $61 miliar/Rp555 triliun (naik)
Sumber: Microsoft
Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Orang paling dermawan di planet ini (Gates sudah menyumbangkan $28 miliar) membantu membebaskan polio di India. Gates akan terus menyumbangkan $200 juta per tahun untuk menghilangkan penyakit-penyakit yang masih endemik di Pakistan, Afghanistan, dan Nigeria. Gates juga punya program baru: memperbaiki pertanian. Yayasannya sudah menyumbangkan lebih dari $2 miliar pada petani kecil. Hanya seperempat dari harta Gates berasal dari Microsoft yang harga sahamnya mencapai nilai paling tinggi dalam 10 tahun terakhir sehingga menaikkan kekayaannya sampai $5 miliar. Sisa kekayaannya berasal dari surat berharga dan saham di Ecolab dan jaringan televisi Mexico, Televisa.
3. Nama: Warren Buffett
Harta kekayaan: $44 miliar/Rp400,3 triliun (turun)
Sumber: Berkshire Hathaway
Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Siapa yang akan menggantikan peran Peramal dari Omaha di kepala Berkshire Hathaway? Buffett mengumumkan pada bulan Februari lalu bahwa ia sudah memilih penerusnya, tapi belum memberikan nama. Pada Desember, ia memilih anaknya yang seorang petani, Howard, sebagai ketua non-eksekutif dan “penjaga nilai-nilai perusahaan.” Undang-undang pajak yang mewajibkan orang kaya harus membayar pajak minimum 30% disebut “Buffett Rule” untuk menghormati miliuner yang sering menyatakan bahwa orang kaya harus membayar pajak lebih besar daripada orang biasa. Harta Buffett turun $6 miliar karena turunnya harga saham Berkshire sebesar 7% selama setahun terakhir. Dalam buletin tahunannya, Buffett mengaku membuat beberapa kesalahan, termasuk memprediksi akan kembali meledaknya sektor properti.
4. Nama: Bernard Arnault
Harta kekayaan: $41 miliar/Rp373 triliun (sama)
Sumber: LVMH
Kewarganegaraan: Prancis
Pengusaha gaya hidup dan barang mewah sekaligus orang terkaya Eropa, Arnault mengeruk kekayaan dari barang-barang mewah di bawah ‘kekaisaran’ LVMH. Penjualan naik 16% di Eropa, Asia, Amerika Serikat, terutama penjualan Louis Vuitton.
5. Name: Amancio Ortega
Harta kekayaan: $37,5 miliar/Rp341,2 triliun (naik)
Sumber: Zara
Kewarganegaraan: Spain
Ortega tidak lagi menjadi direktur perusahaan pakaiannya, Inditex, sejak Juli 2011. Meski begitu, perusahaannya terus berkembang. Harga saham naik setahun terakhir, meningkatkan kekayaannya menjadi $6,5 miliar dan memasukkannya ke daftar lima orang terkaya dunia untuk pertama kalinya.
6. Nama: Larry Ellison
Harta kekayaan: $36 miliar/Rp327,5 triliun (turun)
Sumber: Oracle
Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Saham Oracle sudah naik turun selama berbulan-bulan. Sempat kembali naik sejak turun Agustus lalu, tapi masih lebih rendah 15% jika dibandingkan tahun lalu akibat perlambatan penjualan raksasa software dan hardware ini. Harta Ellison pun turun $3,5 miliar.
7. Nama: Eike Batista
Harta kekayaan: $30 miliar/Rp272,9 triliun (sama)
Sumber: Tambang, minyak
Kewarganegaraan: Brasil
Pria terkaya di Brasil meraup keuntungan dari minyak bumi. Pengeboran minyak dan gasnya, OGX Petroleo e Gas, menghasilkan minyaknya di sumur pengujian lepas pantai akhir Januari. Dua pertiga hartanya berasal dari perusahaan pengeboran tersebut. Selain itu, ia juga menaruh kekayaan pada emas. Ia membeli Ventana Gold dari Kanada yang akan menambang lokasi dengan deposit emas sangat menjanjikan di Kolombia.
8. Nama: Stefan Persson
Harta kekayaan: $26 miliar/Rp236,5 triliun (naik)
Sumber: H&M
Kewarganegaraan: Swedia
Jaringan toko yang menawarkan pakaian chic H&M membuka toko pertama mereka di Kroasia, Singapura, dan Romania. Kini H&M memiliki 2500 toko di 43 negara.
9. Nama: Li Ka-shing
Harta kekayaan: $25,5 miliar/Rp 232 triliun(turun)
Sumber: beragam
Kewarganegaraan: Hong Kong
Meski jumlah hartanya turun, Li Ka-shing masuk lagi ke daftar 10 orang terkaya dunia untuk pertama kalinya sejak 2007. Ia pun kembali menjadi orang terkaya Asia untuk pertama kalinya sejak 2004. Salah satu kaisar konstruksi, Li mempekerjakan 270 ribu orang di 53 negara. Satu dari tujuh tempat tinggal di Hong Kong dibangun olehnya. Ia juga menguasai sekitar 13% dari lalu lintas kontainer dunia. Li juga adalah investor untuk perusahaan teknologi pemula seperti Facebook dan Spotify.
10. Nama: Karl Albrecht
Harta kekayaan: $25,4 miliar (turun)
Sumber: Aldi
Kewarganegaraan: Jerman
Jaringan supermarket murah miliknya Aldi Sud, memiliki 4500 toko, termasuk 1200 di 32 negara bagian Amerika Serikat. Untuk menekan biaya, Aldi tidak menerima kartu kredit.
Reformasi Birokrasi, digulirkan tahun 2007 dengan maksud memperbaiki kualitas pelayanan kepada masyarakat. Selain itu reformasi birokrasi juga menciptakan aparat yang bersih dan profesional. Salah satu langkah reformasi birokrasi
dengan mengeluarkan remunerasi kepada pegawai kementrian dan lembaga negara.
Tahap awal sebagai percontohan remunerasi tahun 2007 dipilih pegawai Kementrian Keuangan. Menteri Keuangan Sri Mulyani, waktu itu berpandapat dipilihnya Kementrian Keuangan sebagai percontohan program remunerasi dengan alasan hampir 75 persen pengumpul penerimaan negara dikelola kementrian keuangan.
Setelah mendapat remunerasi tahun 2007, gaji pegawai di Direktorat Bea dan Cukai dan Pajak terendah Rp 2,091 juta per bulan dan tertinggi Rp 49,33 juta per bulan. Bandingkan dengan pegawai di departemen lain, pegawai terendah mendapat gaji pokok Rp 760.495 sedangkan pegawai tertinggi Rp 2,38 juta per bulan. Remunerasi yang diberikan kepada
Kementrian Keuangan tahun 2010 saja mencapai Rp 5,4 triliun.
Lalu, bagaimana penghasilan Dhana Widyatmika? Begini rincian penghasilan pegawai golongan III/c ini:
Gaji Pokok : Rp 2.066.600 @bulan
Tunjangan Kehadiran : Rp 240.000 @bulan
Tunjangan Kegiatan Tambahan : Rp 5.400.000 @bulan
Tunjangan Khusus Pembinaan Keuangan Negara : Rp 3.800.000 @bulan
Tunjangan Kegiatan Tambahan (TKT) Account Representative : Rp 5.600.000 @bulan
TUNJANGAN
Tunjangan istri : 10 % dari gaji pokok
Tunjangan anak : setiap anak (maksimal 2) mendapat 2% dari gaji pokok
LAINNYA :
UANG MAKAN : Rp 27.000 (dibayar perbulan menurut daftar kehadiran)
UANG LEMBUR : Rp 17.000
UANG MAKAN LEMBUR : Rp 27.000
PENGHASILAN SAMPINGAN
- Mengelola bisnis mini market
- Mengelola usaha diler kendaraan truk bekas
Sumber Diolah Peraturan Menteri Kepmenkeu No. 164/KMK.03/2007 dan Kepmenkeu No. 289/KMK.01/02007 dan Peraturan terkait lainnya.
Judul diatas merupakan penegasan atas SUMPAH PEMUDA bangsa Indonesia yang sudah di-Amin-i sejak 1928 lalu!!!
Sampai sekarang hal itu belum digugat secara legal oleh kaum intelektual , pakar, apalagi politisi.
Sayangnya, perbuatan tidak selaras dengan perkataan bahkan sumpah. Nyatanya, Pendidikan Nasional melalui label ’internasional’ berperilaku sebagai penghianat, musuh dalam selimut yang secara terstruktur merongrong moral ke-SATU BAHASA-an, yaitu INDONESIA, Bahasa Indonesia.
Beberapa cuplikan berikut menunjukkan betapa ’anak sekolah’ seakan memiliki sesuatu yang lebih besar dari jiwa nasionalisme apabila bisa berucap bahasa asing yang nota bene amburadul. Bahkan murid ’kencing terbirit-birit’ karena pengurus sekolah melalui tangan-tangan OPPORTUNIS Komite Sekolah, mengajarkan ’kencing berdiri’ dengan membagakan diri karena fasilitas ’internasional dan bahasa asing yang ke indonesia-indonesia-an.
Bahasa diakui para pemikir ideal sebagai satu alat yang sangat penting dalam komunikasi efektif. Maka seyogianya, sekolah secara aktif menggunakan bahasa ’ibu’ yg lebih akrab, untuk menjalin kebersamaan dan kebersatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Oleh karena itu, menempatkan bahasa asing diurutan paling akhir merupakan bukti sekolah sebagai wadah sekunder yang mampu melekatkan ’rasa’ nasionalisme ke Indonesia-an bangsa ini.
Berkata-kata dengan bahasa asing, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Di Negara ini sudah sejak lama berdiri dengan beraneka ’bahasa’ yang sebenarnya juga asing bagi masyarakat lain yang tidak menggunakan bahasa daerahnya. Yang menakjubkan, rasa persaudaraan dan kekeluargaan dulu lebih erat dan lebih akrab dibanding penghianatan ’internasioanlisasi’ bahasa yang merasuk bangsa sekarang ini. Ber-bahasa dengan bahasa orang lain tidaklah sesuatu yang ’lebih’
Dulu banyak orang sekolah dan kuliah untuk bisa menguasai bahasa asing, seperti bahasa inggris. Tapi alhasil, ilmu bahasa inggrisnya tidak dipakai lingkungan kerja, alias menganggur. Apa yang dibanggakan MENDIKNAS dengan program studi itu? Bukankah kurikulumnya lebih ’internasional’ dibandong SMP/ SMA yang hanya berlabel ’internasional’ ???????
Asal tau saja, teman saya yang hanya lulusan SMP dari pinggiran DANAU TOBA, hanya 3 tahun bekerja d Australia sebagai Tikang Kebun, pulang2 sudah bisa bahasa inggrsi dengan kualifikasi excellent dan membawa dollar !!!!!!
Pemerintah dan bangsa ini, sadarlah!!!!!!
Seharusnya label2 internasional yang sekarang anda lakukan tidak ada ’apa2’ nya! Bahkan itu merupakan penghianatan terhadap komitmen pemerintah terhadap rakyat, yang menjajikan pelayanan yang lebih atas ’pendidikan’,
setidaknya wajib belajar sembilan tahun!
Siapapun pengurus sekolah, apalagi PNS, anda tidak berhak menagih, mengutif, membuat piutang kepada rakyat dengan alasan apapun! Anda sudah di gaji, tidak cukup gajinya, silahkan mundur, sebab sudah sekian tahun orang lain yang ideal menduduki tempatmu bekerja, bersusah payah melakukan pendidikan dan pengajaran yang ideal. Masih banyak ’guru ideal’ yang siap menggantikan anda2 yaitu mereka yang dulu tidak terlibat KKN!
Semua pihak terkait, para opportunis komite sekolah/ dewan sekolah dan label label lain sadarlah. Sekolah Negeri milik rakyat! Bukan milik anda! Anda tidak berhak menetapkan/ menagih/ memungut apapun dari murid dengan alasan apappun. Mungkin saja fasilitas sekolah tidak semua dibiayai Negara karena kesalahan oknum yang mengalokasikan dana, tetapi anda juga tau, orang pintar bukan karena bukunya mahal, orang tidak pintar karena kursinya dari kayu jati, orang tidak pintar karena ruangannya pakai AC, fasilitas itu pendukung, yang seharusnya dianggarkan dalam belanja negara.
SEKOLAH HARUS BANGGA BAHASA INDONESIA
[http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/08/19450220/Sekolah.Harus.Bangga.Bahasa.Indonesia]
JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah memprihatinkan banyak guru. Pasalnya, sekolah tetap diharapkan menjadi garda terdepan untuk membentuk anak-anak bangsa yang mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta membangun kebanggaan dan kecintaan sebagai warga negara Indonesia.
Jajang, Ketua Asosiasi Guru dan Bahasa Sastra Indonesia, yang dihubungi dari Jakarta, Senin (8/11/2010), mengatakan, bangsa ini harus punya sikap untuk mencintai apa yang dimiliki, termasuk bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa pemersatu di Tanah Air. “Jika kita sekarang menggaungkan pendidikan berkarakter, ya harus jelas bahwa karakter yang dibangun karakter Indonesia. Salah satunya dengan membuat anak-anak muda kita mencintai bahasa Indonesia dan mampu menggunakannya sebagai alat komunikasi untuk memajukan bangsa dalam pengetahuan,” kata Jajang.
Menurut Jajang, di Malaysia, sekolah-sekolah tobat untuk kembali mengajarkan bahasa Melayu kepada anak-anak didik. Di Jepang, penggunaan bahasa Jepang tetap yang utama, dan Negara Matahari Terbit ini nyatanya tetap diperhitungkan di dunia internasional.
“Kita harus yakin dengan berbahasa Indonesia kita tetap bisa berdaya saing global. Tantangan sekarang, bagaimana membuat anak-anak mampu memiliki keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan fokus pada meningkatkan minat baca dan menulis,” ujar guru SMAN 5 Bandung ini.
Asep Tapip, anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kota Bandung, menambahkan, penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, memang penting untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia di era globalisasi. Namun, kebutuhan itu seharusnya tidak begitu saja dimaknai secara sempit dengan harus memakainya sebagai bahasa pengantar resmi di sekolah.
Menurut Asep, pembelajaran bahasa Inggris di sekolah itu yang perlu diperbaiki metodenya atau ditambah jam belajarnya. Bisa juga sekolah membudayakan bahasa Inggris dengan membuat hari tertentu sebagai hari berbahasa Inggris, termasuk juga hari berbahasa daerah.
BAHASA ASING JANGAN JADI BAHASA PENGANTAR
[http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/11/04043110/Bahasa.Asing.Jangan.Jadi.Bahasa.Pengantar]
Bangkok, Kompas – Untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran di sekolah, hindari penggunaan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Dengan bahasa asing, siswa dikhawatirkan justru akan bingung dan tidak mengerti persoalan atau malah salah pengertian.
Kekhawatiran itu diungkapkan berkali-kali oleh para peserta dan pembicara dalam sesi diskusi konferensi internasional mengenai ”Language, Education, and the Millenium Development Goals (MDGs)”, Rabu (10/11) di Bangkok, Thailand.
Dari berbagai pengalaman yang diceritakan para peserta dan pembicara, mayoritas bahkan menilai, penggunaan bahasa asing yang terlalu dini di taman bermain dan taman kanak-kanak justru akan mengacaukan kemampuan berbahasa anak.
”Di satu sisi, anak tidak fasih bahasa Inggris karena tidak dipakai sehari-hari. Di sisi lain, penggunaan bahasa ibu juga lama-lama menjadi tidak lancar karena di sekolah mulai ditinggalkan,” kata penasihat pendidikan di Save the Children Inggris, Helen Pinnock, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Luki Aulia.
Direktur SIL International-LEAD Asia Catherine Young juga khawatir jika siswa tidak mengerti bahasa pengantar yang digunakan di sekolahnya, lambat laun minat dan semangat anak bisa menurun dan berakhir dengan drop out.
Keberhasilan MDGs
Sehari sebelumnya, saat membuka konferensi, Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva mengatakan, ”Ilmu pengetahuan apa pun akan lebih cepat dimengerti siswa jika disampaikan dalam bahasa mereka sendiri.” Apalagi di masyarakat yang tinggal di pedesaan, daerah perbatasan, dan kelompok masyarakat miskin.
Masyarakat pedesaan, daerah perbatasan, dan miskin itulah yang dinilai Abhisit masih tertinggal karena tidak bisa memperoleh informasi atau pengetahuan hanya karena mereka tidak menguasai bahasa nasional ataupun bahasa internasional.
Bahkan, menurut pakar bahasa Inggris dari University of Oxford, Inggris, Suzanne Romaine, masyarakat lokal, terutama kelompok minoritas, akan tergilas roda pembangunan jika mereka masih saja terhambat urusan bahasa. Jika pemerintah mau peduli untuk mempertahankan bahasa ibu, taraf hidup masyarakat dipastikan akan membaik.
”Berikan kebebasan masyarakat untuk menggunakan bahasa mereka sebagai sarana untuk mengembangkan diri sendiri,” kata Romaine.
Jika masyarakat lokal dipaksa untuk menggunakan bahasa selain bahasa ibu, Helen Pinnock khawatir masyarakat takut mencoba hal baru dan akan kian tertinggal.
Bukan ukuran
Helen menilai, tidak ada salahnya mengajarkan bahasa asing di jenjang pendidikan dasar asalkan menjadi salah satu mata pelajaran dan bukan bahasa pengantar. Helen juga mengingatkan, bahasa asing sebagai bahasa pengantar tidak bisa dijadikan ukuran mutu suatu sekolah.
”Yang penting benahi metode pengajaran, cara belajar siswa, dan cara guru mengajar. Kuncinya, buat anak nyaman belajar di sekolah, apakah itu dengan bahasa lokal, nasional, atau asing,” kata Helen.
Dalam lingkup yang lebih luas, Helen mengingatkan pentingnya menentukan arah pendidikan. Sumber daya manusia seperti apa yang diharapkan akan dihasilkan institusi pendidikan untuk menghadapi tantangan masa depan.
”Sangat bergantung pada rencana pembangunan jangka panjang pemerintah. Setelah tahu itu, barulah kurikulum seperti apa yang harus dibuat,” ujarnya.
Pengakuan
Suzanne Romaine mengaku khawatir dengan banyaknya negara yang menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Apalagi jika latar belakang pemikirannya hanya agar bisa diakui memiliki standar internasional.
Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar justru akan berisiko bagi negara-negara yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris. Kondisi belajar-mengajar akan semakin tidak jelas karena masih banyak guru yang tidak mahir berbicara dalam bahasa Inggris, apalagi mengajar dalam bahasa Inggris.
Daripada menggunakan bahasa Inggris, Romaine mengusulkan agar lebih baik menggunakan bahasa lokal, terutama bagi siswa yang tinggal di daerah pedesaan atau daerah terpencil.
”Ajarkan bahasa ibu dulu. Baru seiring dengan itu, sedikit demi sedikit, ajarkan bahasa lain,” kata Romaine.
SEKOLAH JANGAN TINGGALKAN KEINDONESIAAN
Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu
JAKARTA, KOMPAS.com – Sekolah mesti mampu menumbuhkan sikap bangga pada ke-Iindonesia-an dalam diri semua siswa. Upaya sekolah ini bukan untuk membuat siswa bersikap antipati pada hal-hal asing, tetapi lebih pada pendidikan untuk membuat generasi muda bangsa tidak kehilangan identitas kekhasannya sebagai anak-anak bangsa Indonesia.
Bangsa ini seharusnya punya optimisme akan mampu sejajar dengan negara-negara lain di dunia dengan sumber daya alam, budaya, dan sosial yang dimiliki. Dengan demikian, Indonesia tidak perlu merasa rendah diri untuk tetap mengedepankan ke-Indonesia-an di era globalisasi sekarang.
“Jadi, sekolah tidak usah sibuk membuat siswanya jago berbahasa asing, sebut saja bahasa Inggris. Yang mesti difokuskan sekolah adalah membuat anak-anak didik berkarakter dan memiliki disiplin berbahasa yang baik sebagai bekal untuk menguasai ilmu pengetahuan, termasuk juga bahasa asing,” kata E Baskoro Poedjinoegroho, Pembina Kolese Kanisius di Jakarta, Kamis (11/11/2010) kemarin.
Baskoro menyatakan, sekolah dan masyarakat telah menanamkan paradigma yang keliru bagi generasi muda dengan menempatkan hal-hal yang berasal dari luar negeri, khususnya dunia barat, sebagai tanda kemajuan dan internasional. Sementara itu, nilai-nilai ke-Indonesia-an, yang salah satunya bangga berbahasa Indonesia, semakin luntur.
“Anak-anak sekarang merasa lebih keren kalau jago ngomong bahasa Inggris. Sementara kemampuan berbahasa indonesia justru dipelajari alakadarnya. Bahkan, banyak siswa yang merasa tidak senang dengan pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Ini kan aneh. Tetapi lingkungan sekeliling mereka juga memang lebih menghargai yang berbau asing daripada yang khas Indonesia,” jelas Baskoro.
BAHASA ASING DI RSBI TIDAK EFEKTIF
Jumat, 12 November 2010 | 04:06 WIB
[http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/12/04063954/Bahasa.Asing.di.RSBI.Tidak.Efektif]
Bangkok, Kompas – Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah yang berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional di Indonesia berjalan tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.
Hal itu dikemukakan Head of English Development British Council Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi internasional ”Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs)”, Kamis (11/11) di Bangkok, Thailand.
”Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas,” ungkap Whitehead.
Hasil penelitian itu juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris.
”Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris,” kata Whitehead.
Tak harus RSBI
Untuk meningkatkan mutu pendidikan, kata Whitehead, tidak perlu melalui pendirian rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Justru akan lebih efektif jika pemerintah memusatkan perhatian pada metode dan proses pengajaran, baik di RSBI maupun non-RSBI. Bahkan, RSBI sebenarnya bisa mengembangkan kurikulumnya sendiri dengan tetap berdasarkan kurikulum nasional dan tidak perlu mengambil mentah-mentah dari negara lain. ”Jangan justru mendahulukan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh,” kata Whitehead.
Hal senada diutarakan konsultan pendidikan di British Council Indonesia, Hywel Coleman. Ia mengaku khawatir RSBI justru menciptakan diskriminasi pendidikan yang semakin lebar. Apalagi kurikulum RSBI sebagian diambil dari sekolah luar negeri.
”Biaya pendidikan di RSBI sebenarnya bisa murah jika kurikulum yang digunakan kurikulum buatan sendiri,” kata Coleman.
Ia khawatir akan banyak anak yang tidak bisa menikmati pendidikan berkualitas baik, seperti di Pakistan dan Thailand.
Karena sudah telanjur harus ada sesuai undang-undang, Whitehead dan Coleman menyarankan agar pemerintah mengawasi dan mengevaluasi RSBI, terutama efektivitas dalam pengajaran menggunakan bahasa Inggris.
”Sampai saat ini belum ada evaluasi menyeluruh dari pemerintah tentang RSBI,” kata Whitehead. (LUK)
Simaklah dan fikirkan ….
Siapa berani memperdebatkan ini…………………………………..?
Siapa Perduli …………………………………………?
Sekolah Berstandar Internasional (SBI) dinilai dapat meluncurkan citra dan konsep pendidikan nasional. Karena itu, pemerintah perlu mencermati fenomena mulai membiaknya SBI. Standar internasional yang kerap digunakan dalam SBI pun dipertanyakan.
SBI merupakan sebuah jenjang sekolah nasional di Indonesia dengan standar mutu internasional. Proses belajar-mengajar di sekolah ini menekankan pengembangan daya kreasi, inovasi, dan eksperimen untuk memacu ide-ide baru yang belum pernah ada.
Pengembangan SBI di Indonesia sendiri didasari oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 50 Ayat 3. Dalam ketentuan ini, pemerintah didorong untuk mengembangkan satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Standar internasional yang dituntut dalam SBI adalah Standar Kompetensi Lulusan, Kurikulum, Proses Belajar Mengajar,SDM, Fasilitas, Manajemen, Pembiayaan , dan Penilaian Standar Internasional. Dalam SBI, proses belajar mengajar disampaikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Beberapa tahun belakangan ini, SBI muncul bak cendawan di musim hujan. Bukan hanya pengelola swasta, sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri atau milik pemerintah juga membuat kelas internasional.
Keberadaan SBI dan RSBI di Tanah Air pun mendapat sorotan yang cukup keras dari banyak kalangan. Mulai dari keberadaannya dalam UU Sisdiknas yang, dinilai, kontraprodukif dengan UUD 1945, biaya masuk yang cukup tinggi hingga adanya fenomena kastanisasi antar sekolah. Menurut sarjana sosiologi Universitas Indonesia (UI) M Fajri Siregar, berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya, menunjukkan sebagian besar siswa SBI memiliki aspek kognitif keIndonesian sangat rendah. Sekolah tidak mendorong tumbuhnya identitas sebagai orang Indonesia. Fajri juga tak menampik jikga keberadaan SBI telah membentuk ketimpangan pendidikan antara mereka dari keluarga kaya dan keluarga miskin.
Hal hampir senada juga diungkapkan pengamat pendidikan HAR Tilaar dimana SBI yang bermunculan sekarang merupakan tempat pendidikan yang tidak nasionalis. SBI dan kelas internasional lebih menjurus pada korporasi atau komersialisasi pendidikan, katanya. Selain itu, munculnya SBI dan kelas internasional menunjukkan pendidikan telah mengarah pada neoliberalisme pendidikan. Sekarang pendidikan sudah menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan. Terlebih lagi dengan adanya dukungan melalui Perpres No. 7 Tahun 2007 tentang investasi asing dalam pendidikan nasional.
Pakar pendidikan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, M Marcellino PhD, seperti dikutip Suratkabar Suara Pembaruan meminta agar pemerintah lebih mencermati makin banyaknya sekolah yang mengaku berstandar internasional. Jika tidak ada regulasi yang ketat, katanya, maka konsep pendidikan nasional seperti yang diamanatkan dalam konstitusi akan pudar. “Standar internasional apa yang diterapkan? Apakah standar Amerika, Inggris, Singapura, India? Apakah karena media komunikasinya yang menggunakan bahasa asing, sementara kurikulumnya biasa saja,” ujar Marcellino dalam harian tersebut.
Dikatakannya, saat ini banyak sekolah mengklaim sebagai SBI. Padahal, kurikulum yang ditetapkan biasa saja, atau kurikulum internasional namun pengajarnya tidak mampu menguasai bahasa asing. Artinya, pengertian internasional itu menjadi kabur.
Marcellino memprediksikan, akan banyak sekolah nasional yang tergerus oleh SBI jika pemerintah tidak segera membuat regulasi yang ketat. Padahal, lanjutnya, sika SBI makin menjamur berarti akan terjadi migrasi besar-besaran pengajar asing yang masuk ke Indonesia. “Kalau sudah begitu, apakah pemerintah sudah memikirkan agenda-agenda terselubung yang juga dibawa para pengajar asing tersebut. Selain itu, lazimnya para pengajar asing itu mengaku lebih berkualitas dibandingkan dengan para guru kita,” tandasnya.
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
RSBI merupakan cikal bakal persiapan menuju SBI. Seperti halnya SBI, RSBI pun adalah sebuah terobosan dalam dunia pendidikan di Tanah Air yang memiliki payung hukum yang sama dengan SBI. Tujuan pengadaan RSBI adalah untuk menyaring siswa-siswa dengan kemampuan di atas rata-rata agar lebih optimal dalam menyerap pelajaran. Pertanyaannya, benarkah SBI dan RSBI yang ada sudah berjalan sesuai konsep yang diprogramkan? Menurut Koordinator Divisi Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan, jika SBI atau RSBI inkonstitusional karena melanggar UUD 1945 dimana di dalamnya disebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan nasional bukan pendidikan internasional.
Pengamat pendidikan, Darmaningtyas, juga menilai SBI atau RSBI adalah bentuk komersialisasi pendidikan yang melanggar konstitusi. Sistem pengelolaan SBI atau RSBI yang diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, membuat manajemen leluasa menarik biaya sebesar-besarnya karena tidak ada aturan yang eksplisit mengatur besarnya biaya sumbangan siswa di SBI atau RSBI. “Melihat konteks persoalan tersebut, rasanya, perlu dikaji kembali keberadaan RSBI. Mungkin perlu ada Perda dan aturan yang jelas mengenai konsep dan standar kualifikasi untuk sekolah-sekolah negeri yang membuka jalur khusus bernama RSBI. Tidak hanya manajemen programnya, tapi perlu juga diatur mengenai mekanisme penentuan sumbangan dan rekrutmen calon siswa barunya,” tutur Darmaningtyas.
Keharusan transparansi prosedur rekrutmen, penentuan kelulusan, hingga pencantuman nilai menjadi hal yang mutlak tak boleh ditinggalkan. Sehingga, tidak ada pihak yang merasa dicurangi, di’telikung’ atau dikorbankan. Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dana bantuan langsung atau block grant yang telah diberikan kepada RSBI. Menurut Mendiknas, Muh. Nuh, evaluasi RSBI itu akan dilakukan secara menyeluruh dan melihat apakah semua ketentuan telah dipenuhi. Apabila, misalnya, RSBI itu tidak mencapai target yang telah ditentukan, sangat mungkin RSBI itu dikembalikan statusnya menjadi sekolah regular. Sebaliknya, jika telah terpenuhi, statusnya akan langsung berubah menjadi SBI.
Apabila sekolah itu berubah status menjadi SBI, dana bantuan otomatis dihentikan. Pertimbangannya, sekolah diharapkan dapat membiayai sendiri setelah selama empat dan lima tahun mendapatkan bantuan untuk membangun infrastruktur dan fasilitas belajar mengajar lain yang dibutuhkan. Mendiknasi pun mengingatkan, RSBI dan SBI harus memenuhi empat komponen, yaitu infrastruktur yang memadai, memiliki guru yang berkualitas, kurikulum sesuai dengan pembelajaran, dan manajemen yang baik. Selain itu, SBI harus memiliki sister school dengan sekolah yang ada di luar negeri karena itu konsep dasarnya.
Mendiknas menepis kekhawatiran banyak kalangan mengenai adanya kastanisasi antar sekolah regular, sekolah berstandar nasional, dan sekolah berstandar internasional. Sekolah-sekolah bertaraf internasional, katanya, adalah amanat UU Sisdiknas yang bertujuan menumbuhkan academic excellent.
Menanggapi fenomena tingginya biaya masuk SBI dan RSBI, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar Menengah Suyanto membantahnya. Menurutnya, tidak semua SBI dan RSBI menetapkan biaya tinggi. Di beberapa daerah masih ada SBI dan RSBI yang murah dan terjangkau. “Contohnya, di Yogyakarta dan Sulawesi Selatan masih ada sekolah RSBI yang biayanya hanya Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu,” tandasnya.
Ditambahkan Suyanto, faktor yang membuat ongkos di SBI dan RSBI menjadi mahal dikarenakan fasilitas belajar di sekolah tersebut yang termasuk paling lengkap. Mulai dari fasilitas teknologi informasi, kurikulum yang berstandarkan mutu pendidikan bertaraf internasional seperti di negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) seperti Australia, Denmark, Finland, France, Jerman, Inggris, Amerika Serikat dan negara maju lainnya. “Di Indonesia, saat ini ada 1.015 RSBI yang memiliki izin dari Kemendiknas
PENINGKATAN FASILITAS LEBIH EFEKTIF DARIPADA LABELISASI
Alasan pemerintah terus mempertahanakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) karena mutu pendidikan Indonesia bakal berdaya saing internasional perlu dipertanyakan. Pasalnya, evaluasi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan justru menunjukkan bahwa tak selalu sekolah RSBI unggul dari sekolah reguler.
Bahkan, dalam beberapa skor penilaian, termasuk bahasa Inggris yang seharusnya menjadi keunggulan RSBI, siswa dan guru di sekolah reguler lebih unggul.
Ini terlihat di jenjang SMP di mana skor bahasa Inggris siswa RSBI 7,05 sedangkan siswa reguler 8,18. Guru bahasa Inggris di SMP juga punya skor yang lebih tinggi 6,2 dibandingkan guru RSBI 5,1. Ini juga terjadi pada guru bahasa Inggris di jenjang SMA.
Selisih skor nilai-nilai antara siswa RSBI dan reguler umumnya di bawah 1 dari skor 0-9. Hal ini terjadi karena dari kajian guru-guru sekolah reguler justru mempunyai skor yang lebih baik dari guru di RSBI.
Ambil contoh guru SMA reguler, ternyata lebih unggul dalam skor di mata pelajaran fisika, biologi, dan bahasa Inggris. Di matematika hampir sama. Untuk kemampuan pedagogi guru juga tidak jauh berbeda.
Bahkan di SD, skor pedagogi guru sekolah reguler lebih unggul. Di jenjang SMP juga berbeda kecil, kecuali di SMA perbedaan lebih dari 1 poin.
S. Hamid Hasan, Ahli Evaluasi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (17/2), mengatakan, tidak berarti bahwa kemampuan RSBI lebih baik dari sekolah reguler yang unggul. “Asal sekolah diberi fasilitas yang baik, guru yang kompetensinya bagus, tanpa embel-embel RSBI pun sekolah tetap bisa menunjukkan kualitas. Untuk apa pemerintah menciptakan perbedaan-perbedaan dalam pendidikan lewat RSBI,” kata Hamid.
Retno Lisyarti, guru SMA RSBI di Jakarta, mengatakan, pemerintah tidak mampu membangun kapasistas guru yang dibutuhkan bagi sekolah bermutu. Dana dari masyarakat dan pemerintah yang mengucur ke sekolah RSBI lebih untuk peningkatan sarana, kegiatan, honor guru, dan membayar pengajar asing yang digaji lebih mahal.
Menurut Retno, di sekolah RSBI ada guru asing yang ditetapkan harus dari kawasan Eropa atau Australia. Bayarannya lebih mahal dibandingkan guru Indonesia. Untuk siswa di kelas internasional yang bayarannya Rp 31 juta per tahun, kata Retno, siswa mendapat pengajaran ekstra dari beberapa guru asing. Utamanya saat siswa hendak menghadapi ujian internasional Cambridge atau IB.
“Kebijakan RSBI pun menciptakan ketidakadilan bukan hanya pada masyarakat. Guru dalam negeri saja dipandang lebih rendah daripada guru asing,” kata Retno.
Sebelumnya, Mendikbud M Nuh menilai, kekurangan yang masih terjadi pada pelaksanaan program RSBI adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, menurutnya, yang harus dilakukan adalah pembenahan, bukan menghilangkannya.
“Opo salahe (Apa salahnya) RSBI? Apa salah kita punya cita-cita memiliki sekolah bertaraf internasional (SBI)? Kalau perguruan tinggi ada visi world class, sekolah juga harus ada SBI,” katanya.
Menurut Nuh, sebagai rintisan SBI yang baru berjalan selama 5-6 tahun, wajar RSBI masih memiliki beberapa kekurangan. “Ibaratnya seperti ini, mau pergi dari Semarang ke Surabaya, di tengah jalan ban bocor. Apa harus kembali ke Semarang lagi? Ya tidak akan sampai-sampai ke tujuan. Solusinya ya bannya harus ditambal agar bisa melanjutkan perjalanan,” katanya.
Ia mengakui, beberapa keluhan yang disampaikan terkait RSBI. Keluhan-keluhan yang dilontarkan di antaranya, eksklusifitas yang dinilai hanya untuk anak orang kaya. Padahal, seharusnya sekolah bersikap inklusif terbuka untuk seluruh kalangan, baik mampu mau pun tidak mampu.
“Kalau itu keluhannya ya dibenahi. RSBI harus memberi kesempatan anak dari keluarga tidak mampu bersekolah. Sekolah boleh eksklusif secara akademik, namun eksklusif secara sosial tidak boleh,” ujar Nuh.
Keluhan lain terkait RSBI, kata dia, berkaitan dengan mutu dan kompetensi guru yang akan diupayakan penyelesaiannya dengan studi lanjut ke strata 2 (S-2) dan S-3 bagi guru untuk menyiapkan diri mencapai SBI.
Hingga saat ini, Nuh mengakui, masih banyak guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan S-2, mengingat proses studi lanjut memerlukan waktu lama. Akan tetapi, ia berharap, masalah studi lanjut ini selesai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Ketika ditanya tentang adanya judicial review terhadap UU Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi dasar munculnya RSBI, ia mengatakan, pengajuan gugatan atas perundang-undangan ke Mahkamah Konstitusi merupakan hak setiap orang.
“Tidak ada masalah, yang jelas tujuan akhir untuk mewujudkan adanya SBI tidak dihilangkan. Goal yang harus dicapai, kalau ada keluhan-keluhan ya harus dibenahi, bukan malah dihilangkan tujuan akhirnya,” kata Nuh.*

SEKOLAH RINTISAN BERBASIS INTERNASIONAL (RSBI) PERLU MENGKAJI GURU ASING DENGAN APBS YANG ADA DITEMPAT MASING-MASING.
Alangkah baiknya, kata Nuh, anggaran yang digunakan untuk menggaji guru ekspatriat itu digunakan untuk mensubsidi peserta didik miskin supaya bisa masuk bersekolah di RSBI. “Apalagi aturan minimal 20 persen untuk kuota peserta didik miskin masih belum terlaksana,” kata dia. Dia juga mengaku sangat kecewa jika keberadaan guru ekspatriat ini hanya untuk gagah-gagahan, atau menjaga gengsi.
Sebagai gantinya, Nuh meminta sekolah berlabel RSBI untuk meningkatkan kualitas guru yang ada. Guru-guru yang dinilai potensial, kalau perlu dibantu dalam segi pembiayaan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
Dengan demikian, sekolah bisa memiliki asset yang lebih bersifat jangka panjang. “Selain itu juga untuk pemberdayaan. Dan bisa menghemat anggaran,” katanya.
Sedangkan jika benar-benar perlu guru pendamping, guru tamu, atau tutor untuk pengayaan pelajaran tertentu, pihak sekolah bisa bekerjasama dengan pendidikan tinggi setempat. Nuh menjelaskan, di kampung-kampus banyak mahasiswa yang sudah jago disiplin ilmu tertentu.
Contohnya, jika mata pelajaran Kimia suatu saat membutuhkan tambahan pengayaan, tinggal meminta bantuan mahasiswa MIPA di sebuah perguruan tinggi. Tentunya, mahasiswa yang sudah direkomendasikan berprestasi oleh pihak kampus. Cara ini, kata Nuh, memiliki dua manfaat. Selain bisa menghemat pengeluaran sekolah, juga memberdayakan mahasiswa setempat.

Setelah meluncurkan peranti lunak untuk mendesain batik, J-Batik Software, Batik Fractal memperkenalkan J-Batik Mini, sebuah peranti lunak yang dirancang khusus untuk para pemula.
“J-Batik Mini diperkenalkan kepada para desainer muda agar semakin mudah menyusun motif baru,” kata Chief Executive Officer Batik Fractal, Nancy Margried, usai merilis J-Batik Mini pada ajang Mega Bazaar Computer 2012 di Jakarta Convention Centre, Sabtu, 3 Maret 2012.
Dalam peranti J-Batik Mini terdapat lima motif batik yang disertai dengan beberapa layout yang memungkinkan pengguna bisa mendesain beragam motif batik.
Di dalam peranti lunak ini sudah tersedia fitur untuk mendesain batik, menambah, mengganti warna, memperbanyak motif batik, dan sebagainya.
Nancy mengatakan versi J-Batik Mini masih dalam tahap persiapan untuk dipasarkan ke konsumen. “Kami bekerja sama dengan Intel untuk menjual J-Batik Mini di IntelApp,” katanya.
Adapun versi J-Batik yang dirancang untuk para profesional hingga saat ini sudah digunakan oleh 400 pengguna.
Selain untuk konsumen di dalam negeri, peranti ini juga sudah digunakan oleh desainer di Inggris dan Swedia. Peranti J-Batik ini dijual dengan harga Rp 300 ribu per unit software.
Menurut Nancy, J-Batik memudahkan para perajin batik dalam mendesain motif batik. Selama ini desain batik menggunakan pensil di media kertas yang menghabiskan waktu lama. “Nah, dengan J-Batik proses desain bisa dilakukan dengan cepat, bahkan bisa beberapa motif.”
Nancy menambahkan bahwa peranti lunak ini akan banyak membantu para perajin batik tradisional dalam mengembangkan desain. Motif yang ada dalam J-Batik diambil dari beragam motif yang ada di daerah di seluruh Indonesia.
Sebenarnya, peranti lunak ini bisa digunakan untuk mendesain dalam banyak media, tidak saja untuk batik, tapi juga untuk poster, wallpaper, bahkan untuk furniture. “Tapi sekarang memang lebih banyak untuk mengembangkan kerajinan batik tradisional,” katanya.
Nancy mengatakan terdapat sejumlah hambatan dalam mengembang software yang menerapkan prinsip matematika ini. Antara lain, kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih senang menggunakan software bajakan.
Kemudian hambatan selanjutnya pada aspek pendanaan. “Perbankan di Indonesia tidak bisa memberikan kredit karena ini industri yang mengandalalkan hak kekayaan intelektual, padahal kalau di luar negeri perbankan bisa memberikan kredit dengan jaminan hak paten,” katanya.
Untuk pemasaran J-Batik ini juga masih menemui kendala dalam hal sistem pembayaran secara online. Selama ini proses pembelian dengan cara memesan, kemudian dikirim atau dengan mengunduh di batikfractal.com.
Sejak resmi diluncurkan pada 2007, Batikfractal pernah mendapatkan sejumlah pendanaan, seperti dari pemerintah, lembaga asing, maupun dalam negeri. Dia mengaku bantuan dari pemerintah tidak banyak.
Terakhir, Batikfractal mendapat pendanaan dari Sampoerna Foundation sebesar Rp 100 juta. “Kami sudah merancang untuk bekerja sama dengan beberapa investor,” katanya.





