CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL )

PENGANTAR
Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit ), dan tidak semena-mena.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,konsep,atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi (membangun ) pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Filosoifi itulah yang mendasar pengembangan pendekatan kontekstual ( Contextual Teaching and Leaning ) CTL.
Dalam tulisan ringkas ini tujuannya untuk membantu para Guru-Guru yang mana masih bingung dalam melaksanakan KBM khususnya penilaian yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia yang nyata bagi peserta didik.
Insya Allah dengan tulisan yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi guru (pendidik),para pengembang materi ajar,dan yang lainnya.
Kritik saran dan solusi yang membangun kami harapkan agar dunia pendidikan lebih maju lagi.

MENGAPA PENDEKATAN KONTEKSTUAL MENJADI PILIHAN ?
1. Sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan
bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta
yang harus dihafal.
Kelas masih berfokus pada guru sebagai narasumber
utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi
sebagai pilihan utama strategi belajar.
Untuk itu,diperlikan sebuah strategi belajar yang baru
dan lebih memberdayakan peserta didik.
Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan
peserta didik menghafal fakta-fakta,tetapi sebuah
strategi yang mendorong peserta didik untuk
mengkonstruksi
(membangun) pengetahuan di benak mereka sendiri.
2. Melalui landasan filosofi konstruktivisme,CTL
dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang
baru,melalui strategi CTL, peserta didik diharapkan
belajar melalui ‘mengalami’ , bukan’ menghafal ‘.

HAKIKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning ) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni
1. Constructivism (membangun),
2. Questioning (bertanya),
3. Inquiry (menemukan),
4. Learning community (masyarakat belajar),
5. Modeling (pemodelan),
6. Reflection (refleksi,
7. Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya).

PENERAPAN CTL DALAM KELAS CUKUP MUDAH,SECARA GARIS BESAR,LANGKAHNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
1. Kembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 3. Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya. 4. Ciptakan masyarakat belajar atau belajar dalam bentuk kelompok. 5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6.Lakukan refleksi diakhir pertemuan supaya ketegangan kendur kembali. 7.Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara,jangan membuat anak bingun. Untuk itu sebagai pendidik atau guru harus kreatif dalam situasi dan kondisi,karena zaman sekarang sudah dilengkapi dengan ICT yang perkembangannya sangat cepat.

Iklan

Tentang alenmarlis

i am as education curriculum developers team
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s