Panduan Praktis Peningkatan Mutu Permendiknas Penyelenggaraan RSBI

Resmi menjadi pedoman praktis meningkatkan mutu lulusan. Produk kebijakan ini memandu sekolah meraih keunggulan persaingan antar bangsa dalam rangka meningkatkan Indonesia yang lebih kuat, lebih maju, lebih sejatera. Inti kebijakan tersebut tidak jauh berbeda dengan Pedoman Penjaminan Mutu Rintisan Sekolah dan Madrasah bertaraf internasional.

Esensi pemikiran yang mendasari kebijakan sebelumnya tidak berubah pada rumusan keputusan berikutnya. Pikiran yang mendasari perubahan tidak datang dari keyakinan yang positif. Kesadaran yang mengemuka adalah karya bangsa kita yang tidak sederajat dengan bangsa lain, kesadaran bangsa yang inferior yang menghargai keunggulan mutu disempurnakan dengan hasil inovasi bangsa lain.

Kita juga setuju bahwa kita perlu memperhatikan secara sungguh-sungguh yang bangsa lain hasilkan. Sikap bijak ini penting agar kita dapat membangun keunggulan komparatif maupun kompetitif. China, misalnya, dalam membangun daya kompetisinya menggunakan semboyan perhatikan apa yang bangsa lain hasilkan.

Krisis Persaingan Mutu Produk

Mengungguli produk pihak lain bergerak cepat. Keunggulan produk baru semakin pendek umurnya karena digantikan dengan produk sejenis yang lebih unggul lagi. Di sisi lain semangat mengadopsi produk pihak lain juga berkembang luar bisa. Tiap produk baru yang laku segera diikuti dengan produk sama yang pihak lain hasilkan.

Lembaga pendidik formal semakin penting untuk mendukung kekuatan persaingan karena keunggulan dalam berbagai bidang tidak tidak terlepas dari efektivitas pendidikan. Persaingan internasional di masa lalu yang bertumpu pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai dasar pengembangan keunggulan di bidang industri telah mengalami pergeseran. Kompetisi bukan hanya pada keunggulan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun pada daya imajinasi bangsa yang dapat menghasilkan produk-produk yang terbarukan dengan cepat sebagai hasil inovasi tanpa henti. Produk baru yang terunggul, teraman dan terkuat berkembang menjadi duta-duta bangsa memasuki persaingan nyata.

Kasus aktual ditariknya mobil Honda di Amerika hingga Indonesia karena adanya kelemahan produk pada sistem elektronik di dekat kaca jendela yang mudah terbakar jika terkena air menandakan bahwa betapa mutu produk dan kepuasan konsumen menjadi fokus yang amat kritis. Dalam persaingan mutu, Toyota Prius merespon penggugat dari Los Angeles mengenai cacat dalam sistem rem (Yahoo,9/2/2009) dengan memberikan perhatian khusus terhadap kegagalan itu. Produk yang lemah itu segera digantikan dengan yang baru.

Perubahan sikap berpikir seperti itu seharusnya berpengaruh besar pada strategi pendidikan dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan, menerapkan ilmu pengetahuan, meningkatkan keterampilan terbaik dalam mendukung usaha peningkatan mutu yang berada pada titik krisis itu. Sekolah adalah ajang pembaharuan dini dalam menyiapkan inovasi bangsa yang berkelanjutan dengan menghasilkan produk bangsa yang selalu terbarukan.

Kompetensi Lulusan

Permendiknas mengamanatkan mutu lulusan sekolah bertaraf internasional memenuhi kriteria mutu sebagai berikut:
memiliki kompetensi yang setara dengan sekolah negara-negara maju
memiliki daya saing komparatif dalam menampilkan keunggulan lokal pada tingkat internasional
memenangi kompetisi internasional
berperan aktif menjaga kelangsungan hidup sesuai perkembangan dunia
kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris
menggunakan dan mengembangkan teknologi komunikasi dan informasi secara professional
bersaing memperoleh pekerjaan pada level internasional

Untuk merespon kondisi ketatnya persaingan dunia maka pendidikan perlu mendefinikan mutu lulusan yang relevan agar transformatif dan adaptif sehingga dapat memelihara kelangsungan hidupnya yang memiliki karakter yang sesuai, di antaranya dapat;
Mengembangkan potensi diri melalui kerja sama dalam kelompok;
Memiliki rasa percaya diri yang tangguh sebagai bekal mengembangkan persaingan tanpa henti, yang dikembangkan sejak dini melalui pengembangan belajar yang kompetitif;
Menguasai ilmu pengetahuan selalu terbarukan dengan standar yang setara dengan siswa dari negara-negara maju;
Memiliki keterampilan terbaik dalam menerapkan ilmu pengetahuan dengan menyajikan pikiran melalui media;
Menghasilkan produk-produk bermutu;
Menunjukkan, memamerkan, mendokumentasikan produk;
Menggunakan kemampuan berpikir kritis, imajinatif, dan inovatif untuk selalu menyempurnakan produk sendiri atau produk pihak lain;
Mengukur mutu produk dengan indikator tingkat kepuasan publik;
Menguasai internet sebagai media pengembangan diri dalam interaksi global;
Bekerja keras untuk memenangkan persaingan.

Produk lulusan yang memiliki kompetensi seperti di atas mensyaratkan pembaharuan pada sistem perencanaan, proses, dan evaluasi belajar yang tidak hanya fokus pada peningkatan lulusan dengan target sukses UN dan lulus masuk pendidikan yang lebih tinggi.

Bagaimana Pendidikan Mengantisipasi?

Bentuk antisipasi yang paling sesuai terhadap kondisi persaingan di atas adalah memperbaharui sistem pembelajaran. Mengubah paradigma yang berkonsentrasi pada peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan disederhanakan dalam bentuk keterampilan menjawab soal-soal pilihan ganda.

Kekhawatiran Prof. Habibi di tahun 1980-an, saat beliau menduduki jabatan Menteri Ristek yang merekomendasikan agar sekolah mengubah sistem evaluasi dengan mengubah penggunaan soal-soal pilihan ganda hanya digunakan dalam tes akhir, perlu mendapat perhatian yang lebih sungguh-sungguh.

Kubangan yang menjebak sistem pengujian di era otonomi daerah yang semakin mengerucut pada lulus UN yang tidak hanya target edukatif, melainkan telah menjadi bagian dari target politik perlu mendapat perhatian lebih sungguh-sungguh dari para penentu kebijakan.

Mengalihkan fokus utama lulus UN sebagai satu-satunya target telah mengurung pemikiran para pendidik dalam kotak masa lalu melalui perumusan definisi mutu lulusan yang sesuai dengan daya bangsa dalam menghadapi persaingan global perlu segera diterbitkan. Sesuai dengan karakter persaingan, yang perlu menjadi fokus utama pembelajaran adalah peningkatan keterampilan terbaik dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang didukung dengan penguatan daya imajinasi untuk menghasilkan produk belajar yang selalu baru.

Oleh karena itu, sistem evaluasi tidak hanya difokuskan pada pengerjaan soal melainkan pada produk menerapkan keterampilan yang disempurnakan dengan berkembangnya daya inovasi sehingga selalu menghasilkan yang baru.

Kebutuhan itu mensyaratkan produk belajar tidak sebatas nilai ulangan. Yang lebih penting lagi adalah produk keterampilan terbaik yang datang dari ide baru yang inovatif. Karenanya, dalam berbagai rubrik dan Lembar Kerja Siswa (LKS) di berbagai negara maju tidak diakhiri dengan soal pilihan ganda. Penguasaan ilmu pengetahuan lebih menukik pada produk pengalaman siswa belajar, produk belajar pekerjaan dan karya. Konsep pembaharuan ini menegaskan pentingnya tiga aspek utama yang perlu sekolah perhatikan, yaitu;
Pengetahuan esensial yang terus terbarukan yang perlu siswa kuasai.
Praktek dalam meningkatkan keterampilan menerapkan ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan berbagai rancangan penerapan seperti dalam bentuk diagram pemikiran, peta pemikiran, proposal, rencana kerja, rancangan penelitian, recana tindakan, rencana penyempurnaan bagian dari karya yang sudah ada, desain program, serta karya imajinatif berupa ide atau karya yang disajikan secara lisan, tertulis, atau yang disajikan dalam multi media.
Karya-karya siswa sebagai produk belajar yang dapat dikritisi, diapresiasi, digunakan, dipamerkan, dipertunjukkan sebagai bahan penyempurnaan pada kegiatan belajar berikutnya. Produk belajar siswa tidak selalu mulai dari ketiadaan. Sesuai dengan prinsip inovasi dapat dimulai dari hasil karya yang telah ada sebelumnya, dari yang dibuat orang lain atau dirinya sendiri, dari imajinasi dan daya inovasinya yang disempurnakan dengan keterampilan sehingga menjadi produk belajar yang selalu terbarukan.
Proses pembelajaran pada seluruh tahapannya memperhatikan pengembangan kompetensi tiap individu melalui pengembangan kolaborasi tim dan kompetisi berkelanjutan.
Evaluasi dikembangkan dengan teknik yang variatif, mengukur pengetahuan, keterampilan yang siswa tunjukkan dalam bentuk karya-karya kreatif. Kesempurnaannya dilengkapi dengan penilaian sikap yang sesuai dengan keimanan, norma, dan etika yang menunjang semangat berkompetisi secara global.
Galeri atau media untuk menyajikan produk belajar siswa terbaik agar keberartiannya terus teruji melalui indikator jumlah audiens yang memberikan perhatian dan memanfaatkan produk melalui rekaman data statistik web.

Pemikiran itu perlu terus dikembangkan dalam diskusi-diskusi para pendidik dengan harapan dasar pertimbangan Menteri Pendidikan dalam menyusun pedoman penyelenggaraan sekolah rintisan SMA bertaraf internasional dapat diwujudkan. Harapan itu adalah menumbuhkan dan mengembangkan daya imajinasi, inovasi, nalar, rasa keingintahuan, dan berkembangnya daya eksperimen peserta didik Indonesia untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru sebagaimana telah ditemukan oleh siswa. Siswa pada dasarnya dapat menemukan dan memanfaatkan kemungkinan baru yang mungkin untuk menyempurnakan karya-karyanya untuk bekal persaingan global.

Secara operasional penyempurnaan yang paling strategis adalah melalui pembaharuan perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran , dan evaluasi belajar yang diimplementasikan dalam kelas dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. (Dr. Rahmat)

Iklan

Tentang alenmarlis

i am as education curriculum developers team
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s