Karakteristik Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)

Pada umumnya sekolah disebut sebagai sekolah internasional antara lain memiliki ciri-ciri:

(a) sebagai anggota atau termasuk dalam komunitas sekolah
dari negara-negara/lembaga pendidikan internasional
yang ada di negara-negara OECD dan/ atau negara maju
lainnya,
(b) terdapat guru-guru dari negara-negara tersebut,
(c) dapat menerima peserta didik dari negara asing, dan
(d) terdapat kegiatan-kegiatan kultur sekolah atau
pengembangan karakter peserta didik yang menghargai
atau menghormati negara/bangsa lain di dunia, toleransi
beragama, menghormati dan saling menghargai budaya
tiap bangsa, menghormati keragaman etnis/ras/suku,
mampu berkomunikasi berbasis TIK dan berbahasa
inggris/ asing lainnya, dan sebagainya.
Sedangkan rintisan sekolah bertaraf internasional adalah
sekolah yang sedang berproses untuk mampu memiliki
keunggulan-keunggulan tersebut, baik dalam hal
masukan, proses dan hasil-hasil pendidikan terhadap
berbagai komponen, aspek, dan indikator pendidikan.
Pada saatnya nanti diharapkan memiliki atau bercirikan
keinternasionalan seperti kemitraan dengan bukti nyata
berupa perjanjian yang secara substantif terlegitimasi
dari salah satu anggota OECD dan / atau negara maju
lainnya (termasuk juga dari dalam negeri) yang
mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang
pendidikan, diyakini telah memiliki reputasi mutu yang
diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki
kemampuan daya saing internasional.

Dalam lulusan RSBI diharapkan, selain menguasai kompetensi dengan SNP di Indonesia, juga telah berusaha untuk menguasai kemampuan-kemampuan kunci global tertentu, khususnya dalam bidang matematika, sains, teknologi informasi dan komunikasi serta bahasa asing, agar setara dengan rekannya dari lulusan negara-negara maju tersebut. Untuk itu pengakraban peserta didik terhadap nilai-nilai progresif yang diunggulkan
dalam era global perlu digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan RSBI. Nilai-nilai progresif tersebut akan dapat mempersempit kesenjangan antara Indonesia dengan negara-negara maju, khususnya dalam bidang ekonomi dan teknologi. Perkembangan ekonomi dan teknologi sangat tergantung pada penguasaan disiplin ilmu keras (hardscience) dan disiplin ilmu lunak (soft science). Disiplin ilmu keras meliputi matematika,
fisika, kimia, biologi, astronomi, dan terapannya yaitu teknologi yang meliputi teknologi komunikasi, transportasi, manufaktur, konstruksi, bio, energi, dan bahan. Disiplin ilmulunak (soft science) meliputi, misalnya, sosiologi, ekonomi, bahasa asing (Inggris,utamanya), dan etika global.

Penyelenggaraan RSBI bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkelas nasional dan internasional sekaligus. Lulusan yang berkelas nasional secara jelas telah dirumuskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan dijabarkan dalam PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan dalam Permendiknas nomor 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta dalam Kebijakan Depdiknas Tahun 2007 Tentang ”Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah”. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 bahwa sekolah harus memenuhi delapan unsur Standar Nasional Pendidikan terdiri dari: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian, dimana semuanya itu merupakan obyek penjaminan mutu pendidikan/sekolah.

Sebagai suatu sistem, penjaminan akan mutu internasional dapat ditunjukkan oleh sekolah dengan karakteristik sebagai berikut:
a. output/lulusan RSBI memiliki kemampuan-kemampuan
bertaraf nasional plus internasional sekaligus, yang
ditunjukkan oleh penguasaan SNP Indonesia dan
penguasaan kemampuan-kemampuan kunci yang
diperlukan dalam era global. SNP merupakan standar
minimal yang harus diikuti oleh semua satuan pendidikan
yang berakar Indonesia, namun tidak berarti bahwa
output satuan pendidikan tidak boleh melampui SNP. SNP
boleh dilampaui asal memberikan nilai tambah yang positif
bagi pengaktualan potensi peserta didik, baik intelektual,
emosional, maupun spiritualnya. Selain itu, nilai tambah
yang dimaksud harus mendukung penyiapan manusia-
manusia Indonesia abad ke-21 yang kemampuannya
berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, beretika global,
dan sekaligus berjiwa dan bermental kuat, integritas etik
dan moralnya tinggi, dan peka terhadap tuntutan-
tuntutan keadilan sosial. Sedang penguasaan
kemampuan- kemampuan kunci yang diperlukan dalam era
global merupakan kemampuan-kemampuan yang
diperlukan untuk bersaing dan berkolaborasi secara global
dengan bangsa-bangsa lain, yang setidaknya meliputi
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir
yangcanggih serta kemampuan berkomunikasi secara
global.

b. proses penyelenggaraan RSBI mampu mengakrabkan,
menghayatkan dan menerapkan nilai-nilai (religi, ekonomi,
seni, solidaritas, dan teknologi mutakhir dan canggih),
norma-norma untuk mengkonkretisasikan nilai-nilai
tersebut, standar-standar, dan etika global yang
menuntut kemampuan bekerjasama lintas budaya dan
bangsa. Selain itu, proses belajar mengajar dalam SBI
harus pro-perubahan yaitu yang mampu menumbuhkan
dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan
eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan baru, “a
joy of discovery”, yang tidak tertambat pada tradisi dan
kebiasaan proses belajar di sekolah yang lebih
mementingkan memorisasi dan recall dibanding daya
kreasi, nalar dan eksperimentasi peserta didik untuk
menemukan kemungkinan baru. Proses belajar mengajar
SBI harus dikembangkan melalui berbagai gaya dan selera
agar mampu mengaktualkan potensi peserta didik, baik
intelektual, emosional maupun spiritualnya sekaligus.
Penting digaris bawahi bahwa proses belajar mengajar
yang bermatra individual-sosial-kultural perlu
dikembangkan sekaligus agar sikap dan perilaku peserta
didik sebagai makhluk individual tidak terlepas dari
kaitannya dengan kehidupan masyarakat lokal, nasional,
regional dan global. Bahasa pengantar yang digunakan
dalam proses belajar mengajar adalah Bahasa Indonesia
dan Bahasa Asing (khususnya Bahasa Inggris) dan
menggunakan media pendidikan yang bervariasi serta
berteknologi mutakhir dan canggih, misalnya laptop, LCD,
dan VCD.

c. Oleh karenanya, tafsir ulang terhadap praksis-praksis
penyelenggaraan proses belajar mengajar yang
berlangsung selama ini sangat diperlukan. Proses belajar
mengajar di sekolah saat ini lebih mementingkan jawaban
baku yang dianggap benar oleh guru, tidak ada
keterbukaan dan demokrasi, tidak ada toleransi pada
kekeliruan akibat kreativitas berpikir karena yang benar
adalah apa yang dipersepsikan benar oleh guru. Itulah
yang disebut sebelumnya sebagai memorisasi dan recall.
SBI harus mengembangkan proses belajar mengajar yang: (1) mendorong keingintahuan (asense of curiosity and
wonder),
(2) keterbukaan pada kemungkinan-kemungkinan baru,
(3) prioritas pada fasilitasi kemerdekaan dan kreativitas
dalam mencari jawaban atau pengetahuan baru
(meskipun jawaban itu salah atau pengetahuan baru
dimaksud belum dapat digunakan); dan
(4) pendekatan yang diwarnai oleh eksperimentasi untuk
menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.

d. input adalah segala hal yang diperlukan untuk
berlangsungnya proses dan harus memiliki tingkat
kesiapan yang memadai. Input penyelenggaraan SBI
yang ideal untuk menyelenggarakan proses pendidikan
yang bertarap internasional meliputi siswa baru (intake)
yang diseleksi secara ketat dan masukan instrumental
yaitu kurikulum, pendidik, kepala sekolah, tenaga
pendukung, sarana dan prasarana, dana,dan lingkungan
sekolah. Intake (siswa baru) diseleksi secara ketat melalui
saringan rapor SD, ujian akhir sekolah, scholastic aptitude
test (SAT), kesehatan fisik, dan tes wawancara. Siswa
baru SBI memiliki potensi kecerdasan unggul, yang
ditunjukkan oleh kecerdasan intelektual, emosional, dan
spiritual, dan berbakat luar biasa.

e. Kurikulum diperkaya (diperkuat, diperluas dan diperdalam)
agar memenuhi standar isi SNP plus kurikulum bertaraf
internasional yang digali dari berbagai sekolah dari dalam
dan dari luar negeri yang jelas-jelas memiliki reputasi
internasional. Guru harus memiliki kompetensi bidang studi
(penguasaan matapelajaran), pedagogik,kepribadian dan
sosial bertaraf internasional, serta memiliki kemampuan
berkomunikasi secara internasional yang ditunjukkan oleh
penguasaan salah satu bahasa asing, misalnya bahasa
Inggris. Selain itu, guru memiliki kemampuan menggunakan
ICT mutakhir dan canggih. Kepala sekolah harus memiliki
kemampuan internasional dalam manajemen,
kepemimpinan, organisasi, administrasi, dan
kewirausahaan yang diperlukan untuk menyelenggarakan
SBI, termasuk kemampuan komunikasi dalam bahasa
asing, khususnya Bahasa Inggris. Tenaga pendukung,
baik jumlah, kualifikasi maupun kompetensinya memadai
untuk mendukung penyelenggaraan SBI. Tenaga
pendukung yang dimaksud meliputi pustakawan, laboran,
teknisi, kepala TU, tenaga administrasi (keuangan,
akuntansi, kepegawaian, akademik, sarana dan prasarana,
dan kesekretariatan. Sarana dan prasarana harus lengkap
dan mutakhir untuk mendukung penyelenggaraan RSBI,
terutama yang terkait langsung dengan penyelenggaraan
proses belajar mengajar, baik buku teks, referensi, modul,
media belajar, peralatan, dsb. Organisasi, manajemen dan
administrasi SBI memadai untuk menyelenggarakan SBI,
yang ditunjukkan oleh:
(1) organisasi: kejelasan pembagian tugas dan fungsi, dan
koordinasi yang bagus antar tugas dan fungsi;
(2) manajemen tangguh, mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, koordinasi dan evaluasi;
dan
(3) administrasi rapi, yang ditunjukkan oleh pengaturan dan
pendayagunaan sumberdaya pendidikan secara efektif
dan efisien. Lingkungan sekolah, baik fisik maupun nir-
fisik, sangat kondusif bagi penyelenggaraan RSBI.
Lingkungan nir-fisik (kultur) sekolah mampu menggalang
konformisme perilaku warganya untuk menjadikan
sekolahnya sebagai pusat gravitasi keunggulan
pendidikan yang bertaraf internasional. Dengan
demikian, tolok ukur atau karakteristik RSBI adalah
sekolah harus mampu memenuhi delapan obyek atau
unsur pendidikan tersebut yang secara rinci dijabarkan
dalam standar indikator-indikator kinerja kunci minimal
sebagai jaminan akan mutu pendidikannya yang telah
berstandar nasional. Di samping itu, sekolah juga harus
mampu memenuhi indikator-indikator kinerja kunci
tambahan, yaitu indikator-indikator kinerja sekolah yang
berstandar internasional sebagaimana dijelaskan di atas.
Secara garis besar dapat dilihat dalam Permendiknas No
78 Tahun 2009.

Tentang alenmarlis

i am as education curriculum developers team
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s