Afitri Susanti, Duta Budaya yang Mengabdi untuk Kepri

Afitri Susanti,  duta budaya
Berlayar jauh ke Bulang Linggi. Membawa tepak buat hantaran.

Adat melayu dijunjung tinggi. Selamat datang kami ucapkan.

Begitulah pantun yang kerap digunakannya dalam mengawali suatu acara saat menjadi master of ceremony (MC). Afitri Susanti, itulah namanya. Perempuan cantik kelahiran Tanjungpinang, Kepulauan Riau ini memang sangat mencintai budaya Indonesia, terutama budaya Melayu. “Pantun menjadi ciri khas saya. Saya tidak ingin kehilangan identitas kemelayuan saya,” ujarnya saat berbincang-bincang dengan redaksi portal Kemdikbud di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, (1/11).

Lahir dari pasangan berdarah Melayu, Muhammad Arsad dan Dasmawati Abdullah, masa kecil Afitri memang kental dengan budaya Melayu. Ia pun menyukai seni tari sejak kecil. Keterampilannya menari membawanya hingga ke negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Usai menuntaskan sekolahnya di SMAN 1 Tanjungpinang, Afitri lalu melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada tahun 1998.

Selama kuliah, aktivitas kebudayaan perempuan kelahiran 9 Agustus 1980 itu tidak berhenti. Ia mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang seni tari. Ia juga serius mempelajari tari Jawa, dan serius pula mempelajari bahasa daerah selama kuliah, yaitu bahasa Jawa dan Sunda. Tinggal di Yogyakarta membuatnya semakin tertarik mengenal budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Baginya, Yogyakarta seperti miniatur Indonesia, di mana ia bisa menemukan berbagai kebudayaan. “Ternyata setiap daerah itu punya tata cara sendiri,” ucapnya penuh kekaguman.

Kecintaannya terhadap budaya memotivasinya untuk mengikuti pemilihan Duta Budaya Tingkat Asia Tenggara di Yogyakarta pada tahun 2002. Saat itu salah satu syaratnya adalah peserta harus mampu berbahasa daerah, minimal tiga bahasa. Afitri pun unjuk kebolehan dalam berbahasa. Terbukti ia mampu berbahasa Melayu, Jawa, dan Sunda. Tinggal satu rumah bersama orang Jawa dan Sunda selama kuliah di UGM memudahkannya mempelajari dua bahasa daerah itu. Ditambah keterampilannya menari, ia pun terpilih sebagai Duta Budaya.

Sebagai Duta Budaya, dan sebagai diri pribadi yang mencintai budaya, perempuan berjilbab ini memiliki motto khusus dalam menjaga tradisi dan mengembangkan kebudayaan. “Kita harus menjaga tradisi dengan cara-cara yang tidak tradisional,” tuturnya.

Ia pun mengaku banyak yang masih menanyakannya di mana Kepulauan Riau (Kepri). “Membuat saya semakin termotivasi untuk memperkenalkan Kepri. Saya harus menjadi duta untuk memperkenalkan daerah saya,” ujarnya penuh semangat.

Tahun 2004, ibu beranak satu ini mulai bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta, yaitu RS Condong Catur, sebagai Kasie HRD dan Kesekretariatan. Saat itu ia juga berstatus mahasiswa S-2, untuk program Magister Manajemen dengan konsentrasi SDM di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Selama berada di Yogyakarta, selain bekerja dan kuliah, Afitri juga mengajar di Lembaga Pendidikan Ratih Sang yang bergerak di bidang modeling dan kepribadian yang berbasis islami. Ia juga menjadi dosen di perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, menjadi presenter Yogya-Tv, dan menjadi narasumber di bidang psikologi. “Konsentrasi saya selalu bergerak di bidang pendidikan, perempuan, dan anak-anak,” katanya.

Perempuan yang saat ini sedang mempelajari bahasa Minang itu bertutur, dirinya kembali ke tanah kelahiran Tanjungpinang karena panggilan dari ayahnya yang sedang sakit. Setelah kembali di Tanjungpinang, ia pun memutuskan untuk mengabdi di tanah kelahirannya, dan ingin berkontribusi dalam mengenalkan dan mengembangkan budaya Melayu. Ia juga ingin menjadikan Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu yang dikenal masyarakat luas, baik di Indonesia, maupun mancanegara.

Saat ini Afitri tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Kebudayaan Pemprov Kepri, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Subbidang Inventarisasi Dokumen Budaya dan Sejarah, Bidang Sejarah dan Cagar Budaya. Sebelumnya, sejak Januari 2008 hingga Februari 2013, ia menjadi PNS di Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Kepri.

”Saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi PNS. Saya ingin menjadi orang bebas. Tapi di sisi lain saya ingin mengabdi,” ujarnya yang menganggap dengan menjadi PNS ruang lingkupnya akan menjadi sempit dan tidak bisa melakukan banyak hal. Namun ia mengaku setelah menjalani pekerjaan sebagai PNS, ia memiliki banyak pengalaman baru dan kesempatan menarik untuk mengaktualisasikan dirinya dan mendedikasikan dirinya untuk Kepri tercinta.

Selain aktif sebagai PNS, saat ini Afitri juga aktif mengajar di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), dan di beberapa perguruan tinggi swasta di Tanjungpinang. “Mengajar adalah panggilan jiwa. Jadi saya merasakan ini salah satu hal yang menjadikan jiwa saya lebih hidup,” tuturnya. (DM)

Tentang alenmarlis

i am as education curriculum developers team
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s